BMT Salafiyah

- Komitmen Memperjuangkan Ekonomi Syari'ah -

Site Search



Headline 5 Berita Terbaru



PRODUK BMT SALAFIYAH SIMPANAN DAN PEMBIAYAAN

SIMPANAN  

 

Jenis–jenis simpanan atau produk penghimpunan dana, dimaksudkan untuk mengerahkan dana anggota/calon anggota KJKS BMT SALAFIYAH.   

 

KJKS BMT SALAFIYAH hanya dapat mengeluarkan satu bentuk produk simpanan atau simpanan anggota, yaitu ”Produk Simpanan Mudharabah”. Produk ini dapat dijadikan salah satu syarat bagi mereka yang ingin mengajukan pembiayaan. Juga bagi mereka yang hanya ingin menyimpan/menabung saja.

 

JENIS-JENIS SIMPANAN

 

- Simpanan Pembiayaan

 

Jenis simpanan ini penarikannya dikaitkan dengan pemberian pembiayaan. Caranya, setiap kali anggota mengangsur pembiayaan ke KJKS BMT SALAFIYAH dia diwajibkan menabung sesuai dengan kemampuan masing-masing. Dan pengambilannya dapat dilakukan ketika angsuran pembiayaan telah lunas. 

 

Catatan: Setiap orang yang ingin mengajukan pembiayaan ia harus menjadi anggota. Seseorang akan menjadi anggota secara otomatis jika ia membayar setoran pokok di KJKS BMT SALAFIYAH. Jadi, ia harus sudah mempunyai setoran pokok terlebih dahulu. Termasuk ketika ia akan menabung/menyimpan, maka juga harus menjadi anggota terlebih dahulu.  

 

- Wadi’ah Dhamanah (Al’Ariah)  

 

Wadi’ah dhamanah adalah akad titipan dimana yang dititipi (penerima titipan) wajib menjamin atau menjaga keutuhan dan keselamatan barang atau harta yang dititipkan oleh penitip. Yang dititipi (penerima titipan) dikarenakan jasanya tersebut berhak mendapat imbalan dari penitip sebagai bea atas jaminan (al kharaj bidh dhaman). Namun apabila barang atau harta yang dititipkan tersebut digunakan atau dikelola untuk usaha oleh yang dititip (penerima titipan) maka berlakulah hukum pinjaman (al ‘ariah) dan menjadilah harta tersebut sebagai hutang yang harus dipertanggung jawabkan.

 

Dalam prakteknya KJKS BMT SALAFIYAH menjalankan dan mengelola dana (uang) yang dititipkan kepadanya, oleh karenanya dalam hal ini Penyimpan bertindak sebagai yang memberi pinjaman yang tidak lagi dikenakan bea jaminan bahkan dapat diberi imbalan oleh peminjam (KJKS BMT SALAFIYAH) bila usaha yang dijalankan baitul tamwil mendapat untung, dengan besar imbalan tidak diperjanjikan di muka dan jika KJKS BMT SALAFIYAH merugi dana (uang) simpanan tetap terjamin hanya saja penyimpan tidak diberikan imbalan tetapi ganjaran dari Allah SWT. Tetap akan didapatkan, Insya Allah.

 

- Mudharabah 

 

Yaitu penyerahan dana dari seseorang (shahibul maal) kepada orang lain (mudharib) untuk digunakan dalam usaha halal, dimana keuntungan usaha akan dibagi sesuai dengan nisbah yang telah disepakati kedua belah pihak.

 

Dalam prakteknya, KJKS BMT SALAFIYAH bertindak sebagai mudharib yang menjalankan dan mengelola dana, sedang yang menyimpan uang sebagai shahibul maal. Bila usaha berjalan lancar dan mendapat keuntungan maka keuntungan akan dibagi sesuai nisbah yang telah disepakati dan bila usaha merugi maka shahibul maal menanggung kerugian uang, sedang KJKS BMT SALAFIYAH rugi tenaga, waktu dan lain-lain. Oleh karenanya jika belum diyakini bahwa KJKS BMT SALAFIYAH akan untung sebaiknya tidak perlu membuka simpanan jenis mudharabah sehingga tidak merugikan penyimpan. 

 

Simpanan Mudaharabah merupakan jenis simpanan yang bebas, baik dalam hal jumlahnya maupun waktu menyetorkannya, sesuai dengan kemampuan dan kemauan anggota. Simpanan ini dapat ditarik sewaktu-waktu dengan ketentuan batas minimal penarikan setiap hari.

 

PEMBIAYAAN 

 

Dalam Undang-Undang Perbankan No. 17 Tahun 1912, disebutkan bahwa: “ Pembiayaan adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara koperasi dengan anggota/cal0n anggota yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan jumlah infaq/shadaqah, imbalan, atau pembagian hasil keuntungan.”

 

Pembiayaan adalah fasilitas yang diberikan oleh KJKS BMT SALAFIYAH kepada anggotanya untuk menggunakan dana yang telah dikumpulkan oleh pengelola KJKS BMT SALAFIYAH dan berasal dari anggota pula.

 

MANFAAT PRODUK PEMBIAYAAN 

 

Manfaat produk pembiayaan adalah meningkatkan kesejahteraan ekonomi rumah tangga anggotanya sebagai bekal beribadah kepada Allah SWT. Sehngga mampu meningkatkan ketaqwaan dan amal shalih dalam kehidupan sehari-hari. Sasaran pembiayaan diarahkan kepada semua sektor ekonomi yang memungkinkan untuk dibiayai seperti pertanian, industri rumah tangga (home industry), perdagangan dan jasa. 

 

JENIS PEMBIAYAAN 

 

Semua jenis pembiayaan merupakan pemanfaatan dana untuk usaha produktf. Namun agar lebih efektifnya pembiayaan maka jenis pembiyaan yang digunakan harus sesuai dengan penggunaan dana pembiyaan tersebut.

 

- Bai bi Tsaman ‘Ajil (BBA) 

 

Yaitu hubungan akad jual beli (investasi atau pembelian barang) dengan pembayaran tangguh atau angsuran. Dalam masyarakat kita hubungan jual beli ini biasa disebut dengan jual beli secara kredit.

 

Dalam prateknya, KJKS BMT SALAFIYAH bertindak sebagai penjual. KJKS BMT SALAFIYAH mengatur pembelian barang modal yang diajukan oleh anggota, untuk kemudian dijual kembali kepada anggota sesuai harga yang telah disepakati. Jumlah kewajiban yang harus dibayar kepada KJKS BMT SALAFIYAH oleh anggota ialah jumlah harga barang modal dan mark up (keuntungan) yang telah disepakati. KJKS BMT SALAFIYAH mendapat keuntungan dari harga barang yang dinaikkan. Yang perlu diperhatikan ialah lamanya tempo untuk mencicil dan jumlah cicilan yang disepakati, perlu dipertimbangkan secara matang oleh calon pemilik barang sebelum barang yang dimaksud dibelikan.

 

Contoh : Ahmad bermaksud memiliki ‘gerobak dorong’ untuk berjualan ‘tahu campur Bondowoso’,dia telah melihat ada gerobak dorong yang dijual seharga Rp.200.000,00. Ahmad selanjutnya mengajukan kepada KJKS BMT SALAFIYAH untuk maksud tersebut. Setelah disepakati bahwa harga gerobak dorong nantinya dihargakan kepada Ahmad sejumlah Rp.230.000,00, dengan pembayaran tangguh atau mencicil selama 10 minggu, maka KJKS BMT SALAFIYAH membeli gerobak dorong tersebut atas nama Ahmad. Pada saat itu juga, gerobak dorong tersebut diserahkan kepada Ahmad untuk dikelola.

 

- Bai Al Murabahah 

 

Akad jual beli ini sebenarnya hampir sama dengan bai bi Tsaman ‘aji, bedanya pada bai’ al murabahahpembayaran dilakukan oleh anggota kepada KJKS BMT SALAFIYAH setelah jatuh tempo pengembalian dengan harga dasar barang yang dibeli ditambah keuntungan yang di sepakati bersama. 

 

Contoh : Ibu Ahmad bermaksud memiliki blender untuk memperlancar usaha minuman ‘aneka juice buah Mangga’, karena selama ini ia hanya membuat juice secara sederhana (manual). Tetapi Ibu Ahmad tidak memiliki dana untuk membelinya, selanjutnya ia meminta kepada KJKS BMT SALAFIYAH untuk membeli 2 buah blender yang dimaksudkan pada tanggal 1 Januari 2011 dengan harga @ Rp. 60.000.

 

Sebelumnya KJKS BMT SALAFIYAH dan Ibu Ahmad membuat akad perjanjian, yaitu Ibu Ahmad menerima 2 buah blender tersebut dengan harga @Rp. 80.000,- dan akan dilunasi pembayarannya pada tanggal 1 Januari 2015 sejumlah Rp.160.000. setelah akad perjanjian ini ditandatangani, maka KJKS BMT SALAFIYAH membelikan blender tersebut untuk Ibu Ahmad.

 

- Bai Al Mudharabah

 

Sebagaimana telah dijelaskan di atas tentang mudharabah dalam simpanan dimana KJKS BMT SALAFIYAH bertindak sebagai mudharib dan anggota sebagai penyimpan maka dalam operasi pembiyaan, perannya menjadi terbalik, KJKS BMT SALAFIYAH bertindak sebagai shahibul maal dan anggota (penerima pembiayaan) sebagaimudharib yang menjalankan usaha dan manajemennya.

 

Dalam pembiayaan ini beresiko sangat tinggi karenanya harus dilakukan secara hati-hati dan dengan penelitian yang benar-benar matang.

 

Hasil keuntungan akan dibagi sesuai dengan kesepakatan bersama dalam bentuk nisbah tertentu dari keuntungan pembiayaan. Bagi hasil efektif didapat KJKS BMT SALAFIYAH setelah anggota mendapatkan dana pembiyaan dan setelah dinilai bahwa investasi tersebut telah menghasilkan keuntungan. Apabila pengelolaan usaha mengalami kerugian, maka KJKS BMT SALAFIYAH menanggung semua kerugian modal usaha sedangkan anggota menanggung kerugian waktu dan manajemen. 

 

Contoh : Bapak Najib, melihat adanya peluang usaha menjual ikan basah segar di lingkungan perumnas Banyuputih. Ia bermaksud membeli ikan tangkapan nelayan di pesisir Mimbo dan menjualnya pada pagi hari untuk memenuhi kebutuhan pembeli di lingkungan perumnas dan masyarakat sekitarnya. 

 

Selanjutnya Najib mengajukan pembiayaan ke KJKS BMT SALAFIYAH sebanyak Rp.600.000. dengan perjanjian bagi hasil 60:40 dihitung setiap minggu, yaitu Najib memperoleh bagian keuntungan sebanyak 60% dan KJKS BMT SALAFIYAH memperoleh bagian keuntungan sebanyak 40% dengan masa pengembalian pinjaman 6 minggu. Setelah persetujuan kedua belah pihak ditandatangani, maka Najib diberikan pembiayaan sejumlah Rp.600.000.

 

Pada minggu pertama, Najib memperoleh keuntungan bersih sebanyak Rp. 150.000. Selanjutnya Najib mencatat pada buku catatan khusus dan melaporkan pada KJKS BMT SALAFIYAH. Dari keuntungan bersih Rp.150.000. itu, si Najib memperoleh bagian keuntungan Rp. 90.000. (60%) dan KJKS BMT SALAFIYAH memperoleh bagian keuntungan Rp. 60.000. (40%). 

 

Setiap minggu, Najib menyetor uangnya pada KJKS BMT SALAFIYAH melalui Simpanan Mudharabah. Pada minggu berikutnya, berturut-turut Najib memperoleh keuntungan bersih Rp.200.000, Rp.150.000, Rp.160.000, Rp.180.000, dan Rp.200.000. KJKS BMT SALAFIYAH dan Najib melakukan bagi hasil berturut-turut setiap minggunya sebagaimana minggu yang pertama. 

 

Tepat pada saat jatuh tempo Najib mengembalikan modal pembiayaan beserta keuntungan KJKS BMT SALAFIYAH minggu ke-6 sebesar Rp.660.000. Dengan demikian total  bagian keuntungan KJKS BMT SALAFIYAH sebesar Rp.416.000 (40%) dan Najib sebesar Rp.624.000 (60%).  

 

Pada periode 6 minggu berikutnya, Najib meneruskan pinjamannya dengan pola yang sama. Insya Allah, pada periode 6 mingguan ke-3 Najib tidak perlu mengajukan pembiayaan lagi ke KJKS BMT SALAFIYAH untuk modal usaha karena Najib telah memperoleh hasil keuntungan  yang  memadai untuk mejalankan usahanya. 

 

- Bai Al Qardul Hasan  

 

Al Qardul Hasan adalah pembiayaan lunak yang diberikan atas dasar kewajiban sosial semata dimana anggota (penerima pembiayaan) tidak di tuntut mengembalikan apapun kecuali modal pokok pembiyaan. Namun peminjam atas kehendaknya sendiri boleh menambah secara sukarela sebagai tambahan tertentu pada saat mencicil atau melunasi pembiayaan di atas pembayaran yang seharusnya. Kelebihan dana tersebut akan dimasukkan dalam kas KJKS BMT SALAFIYAH sebagai infaq/shadaqah. 

 

- Bai Al Musyarakah

 

Adalah pembiayaan modal investasi atau modal kerja, yang mana pihak KJKS BMT SALAFIYAH menyediakan sebagian dari modal usaha keseluruhan, pihak KJKS BMT SALAFIYAH dapat dilibatkan dalam proses manajemen. Pembagian keuntungan berdasarkan perjanjian sesuai proporsinya dalam bentuk nisbah. Apabila pengelolaan usaha mengalami kerugian, masing-masing pihak menanggung kerugian sesuai kesepakatan perjanjian. 

 

Contoh : 

 

Si Wahyu seorang pedagang minyak tanah, ia mengajukan pembiayaan ke KJKS BMT SALAFIYAH. KJKS BMT SALAFIYAH memutuskan bersyarikat dengan si Wahyu dalam bentuk pemberian pembiayaan musyarakah. Pihak pertama (Wahyu) menyediakan fasilitas tempat usaha (kios) dan gerobak dorong untuk mengantar minyak ke pelanggan yang kalau diuangkan sejumlah Rp.300.000,00. Sedangkan pihak kedua (KJKS BMT SALAFIYAH) menyediakan uang tunai sebesar misalnya Rp.600.000, untuk modal pengadaan barang dagangan berupa minyak tanah, dengan perjanjian bagi hasil 50:50 dan waktu bersyarikat selama 1 tahun. Perhitungan bagi hasil sama dengan pola dalam pembiayaan mudharabah. Perbedaannya terletak pada besarnya nisbah bagi hasil, dan setelah jatuh tempo umumnya pembiayaan musyarakah ini akan ditinjau kembali dan dilanjutkan dalam kemitraan usaha yang saling memberikan keuntungan.

 

KJKS BMT SALAFIYAH” - akhair68@gmail.com

 

(Tanggal Posting : 2015-04-14 09:47:57)


Bank (Konvensional vs Syariah) dari masa ke masa

Menabung merupakan aktivitas yang dilakukan oleh manusia sebagai upaya untuk menyimpan uangnya agar aman. Zaman dahulu orang menabung di bawah bantal, di bawah kasur, di dalam songkok/kopyah, ataupun diletakkan di salah satu sudut bagian rumah. Perkembangan peradaban membawa jalan pikiran manusia untuk membuat aktivitas menabung berpindah tempat tidak lagi hanya di lingkungan rumah, tapi telah berpindah ke sebuah lembaga yang dianggap berpotensi untuk menjaga uangnya agar aman. Lembaga tersebut biasa dikenal oleh masyarakat sekarang ini dengan sebutan BANK.

 

Awalnya, bank hanya berperan sebagai tempat menyimpan uang agar aman dari pencurian ataupun terjadinya musibah baik alam maupun karena ulah tangan manusia yang tidak dapat diprediksi kehadirannya.

 

Saat ini, peran bank sudah semakin bertambah, selain sebagai tempat menabung, bank juga berfungsi sebagai tempat meminjam untuk modal usaha ataupun untuk memenuhi kebutuhan konsumtif manusia seperti rumah dan kendaraan bermotor. Bank juga berperan sebagai tempat investasi masa depan bagi nasabahnya.

 

Sejak lama masyarakat mengenal bank hanya sebagai sebuah institusi yang dapat memberikan keuntungan lebih ketika mereka menyimpan uang di bank, yaitu berupa bunga (interest). Sejak lama masyarakat menganggap bahwa bunga bank yang mereka peroleh adalah hal yang wajar dan patut mereka peroleh manakala mereka menyimpan uangnya di bank. Bahkan, tak jarang lomba banjir hadiah yang diimingkan kepada nasabah dimaksudkan sebagai salah satu cara untuk menarik minat masyarakat menjadi nasabah di bank tersebut.

 

Sayangnya, tanpa pernah disadari sebenarnya bunga (interest) bank ini termasuk praktek kegiatan ekonomi yang biasa dilakukan oleh para rentenir yang selanjutnya dipraktekkan oleh dunia perbankan dengan lebih profesional.

 

Memperoleh imbalan bunga dengan menyimpankan uangnya di bank sama saja dengan menggandakan nilai uang tanpa disertai dengan usaha produktif yang dilakukan dengan jelas dan transparan, padahal sebenarnya uang bukanlah objek yang bisa diperjualbelikan seperti barang dagangan. Uang dalam tinjauan ajaran Islam hanya berfungsi sebagai alat tukar terhadap aktivitas transaksi yang dilakukan oleh masyarakat. Dalam hal ini, masyarakat tidak lagi harus pusing memikirkan barang apa yang harus mereka miliki agar bisa ditukarkan dengan barang yang mereka butuhkan. Dahulu cara seperti ini biasa dikenal dengan sisten barter.

 

Saat ini, ada cara lain yang membuat masyarakt tetap bisa merasa aman menyimpan uangnya di bank (syari’ah), yaitu dengan menikmati bagi hasil dari uang yang mereka simpan di bank. Bagi hasil tidak sama dengan bunga.

 

Menabung pada dasarnya memberikan kesempatan kepada bank sebagai lembaga keuangan untuk mengelola uang nasabah dengan baik pada sektor-sektor usaha yang benar dan jelas. Artinya, nasabah dalam hal ini berperan sebagai pihak peminjam.

 

Bila diterapkan sistem bunga, maka sejak awal perjanjian, pihak pemilik uang telah menetapkan seberapa besar pihak peminjam harus mengembalikan uangnya dengan nilai yang tentu saja menjadi lebih tinggi dari jumlah uang yang ia pinjamkan. Disinilah letak kedholiman yang tidak disadari, karena pihak peminjam dibebankan nilai uang yang lebih besar dari jumlah yang ia pinjam, ataupun sebaliknya bisa terjadi ketimpangan pembagian keuntungan yang tidak merata antara pihak pemilik dana dengan pihak peminjam.

 

Berbeda dengan sistem bagi hasil (bank syari’ah), antara pihak pemilik dana (nasabah) dengan pihak yang akan mengelola uangnya (bank) terdapat adanya kesepakatan berapa bagi hasil yang akan diperoleh masing-masing setelah usaha tersebut dijalankan dan memperoleh keuntungan. Di sini, semua pihak yang melakukan kerjasama bagi hasil akan memperoleh haknya untuk mendapatkan bagiannya masing-masing sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak.

 

Wallahu a’lam bis shawab…

Allahu Akbar………

(akhair68@gmail.com)

 

(Tanggal Posting : 2015-03-10 11:52:03)


ASBABUL QIYAM KJKS BMT SALAFIYAH Sukorejo

Koperasi Jasa Keuangan Syari’ah (KJKS) BMT SALAFIYAH ber BH (Badan Hukum) pada tanggal 24 Juni 2013 dengan Level Provinsi Jawa Timur. Praktek lintah darat yang menggerogoti warga miskin di pedesaan Kecamatan Banyuputih Kabupaten Situbondo, menjadi latar belakang pendirian KJKS BMT SALAFIYAH ini

Kami prihatin dengan warga miskin yang terus dihisap oleh lintah darat, yang kalau disini dikenal dengan istilah “BANK OSER”. Tapi Alhamdulillah, para pengurus dan pengelola sepakat untuk membantu warga miskin dari jeratan lintah darat. Akhirnya didirikanlah KJKS BMT SALAFIYAH,” ungkap salah satu pengelola KJKS tersebut. “Dulu banyak orang pesimis KJKS bisa maju seperti sekarang, tapi Alhamdulillah sekarang sudah punya asset  lebih 3.5 M.

Sebelum mendirikan KJKS, pengurus  melakukan pengamatan sederhana. Fokus pengamatan hanya pada satu pertanyaan,  berapa banyak warga yang tergantung pada lintah darat atau rentenir.

Ternyata, korban praktek rentenir adalah warga NU lapisan paling bawah. Jumlahnya mencengangkan, di satu bank harian saja, korbannya mencapai  lebih 1.000  orang. Mereka harus mengembalikan pinjaman dengan bunga sampai 20%/bulan.

Semangat tiga orang karyawan yang pada waktu itu ditugasi sangat luar biasa ampuhnya. Mereka mendatangi para tokoh masyarakat dan masyarakat yang punya toko, simpatisan, para pengurus, dari pintu ke pintu, siang dan malam. Dalam pelbagai kesempatan, mereka melobi pesantren-pesanten, madrasah-madrasah  dan sekolah-sekolah, kelompok-kelompok arisan, majelis dzikir, majelis ta’lim,  yang ada di Kecamatan Banyuputih, agar menyimpan uangnya di KJKS BMT SALAFIYAH.

Setelah satu tahun buku berdiri, masyarakat  tampaknya tidak meragukan profesionalisme KJKS BMT SALAFIYAH. Jumlah anggota/calon anggota terus bertambah secara meyakinkan. Saat ini, KJKS BMT SALAFIYAH memiliki 3.845 anggota/calon anggotadan karyawannya bertambah menjadi 19 orang.

Produk Tabungan syari’ah KJKS yang punya motto “KOMEKS” (Komitmen Memperjuangkan Ekonomi Syari’ah) yang dikembangkan adalah Simpanan Mudlarabah (umum dan deposito), simpanan idul fitri, simpanan wadi’ah, simpanan anggota (Sita) Simpanan Pendidikan, Simpanan Walimah, Simpanan Wisata/Ziarah, simpanan Aqiqah/Qurban dan simpanan Haji/Umroh.

Untuk penyaluran dana atau pembiayaan produk yang dikembangkan adalah mudlarabah, Bai’ Bits Tsamani al-Ajil (BBA), murabahah (MRA),  musyarakah (MSA), al-Qardul Hasan (QH), dan Rahn (Gadai). Sementara untuk produk jasa, KJKS BMT SALAFIYAH menawarkan pembayaran rekening PLN, telepon,PDAM dan speedy/internet, Travel, Tiket Pesawat, Kereta Api, Kapal Laut dan Bus antar kota serta pembelian pulsa seluler dan token.

Dalam rangka  mambagi-bagikan rasa kebahagian kepada sesama setiap tahun KJKS BMT SALAFIYAH  tidak lupa memberikan santunan kepada anak yatim dan fakir miskin. Untuk program tahun 2014/2015 juga akan diberikan beasiswa bagi anak/siswa didik berprestasi dan tidak mampu khusus untuk lembaga pendidikan yang menyimpan dananya di KJKS.

KJKS BMT SALAFIYAH yang menempati salah satu pertokoan milik Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, jalan Raya Surabaya-Banyuwangi, Desa  Sumberejo, Kecamatan Banyuputih Kabupaten Suitubondo telah menjadi kebanggaan warga di Kecamatan Banyuputih, Asembagus dan Jangkar. Dan selanjutnya akan membuka Cabang/Cabang Pembantu/Kantor Kas di beberapa kabupaten se JAWA TIMUR.

KJKS BMT SALAFIYAH juga banyak didatangi oleh lembaga pendidikan dan lembaga jasa keuangan untuk studi banding, dan juga tempat penelitian bagi para mahasiswa untuk menyelesaikan tugas akhirnya, serta juga sebagai tempat magang/praktek kerja untuk siswa, mahasiswa dan santri dalam rangka memperdalam keahliannya di bidang akuntansi, administrasi dan lembaga keuangan syari’ah. (akhair68@gmail.com)

(Tanggal Posting : 2015-03-05 14:28:16)


(Tanggal Posting : )


(Tanggal Posting : )



Alamat

Jl. Raya Banyuwangi
Timur SPBU Sukorejo
Situbondo 68374 Jawa Timur

Pondok Pesantren
Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo